Rabu, 23 Maret 2022

3.2.a.10.3. Jurnal Refleksi – Minggu 22

 

3.2.a.10.3. Jurnal Refleksi – Minggu 22

1.       Facts (Peristiwa):

Pada minggu ini saya menyelesaikan Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Pada prosesnya hal baik yang saya alami adalah bahwa pembelajaran materi ini sangat bermanfaat, dan merupakan hal baru bagi saya. Pada prosesnya tidak ada hambatan atau kesulitan berarti selama proses pembelajaran ini. Saya selalu mendapatkan informasi dari Fasilitator dan selalu berdiskusi dengan rekan rekan CGP sehingga hal tersebut sangat membantu.

2.       Feelings (Perasaan):

Selama pembelajaran berlangsung, saya merasa tertantang dan termotivasi untuk menerapkannya pada aksi nyata di sekolah, karena menurut saya apa yang saya pelajari ini sangat relevan dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah saya, sehingga dengan mempelajari materi ini semoga menjadi alternatif solusi untuk meningkatkan kualitas belajar.

3.       Findings (Pembelajaran):

Pembelajaran yang saya dapatkan dari proses ini bahwa dalam pengeloalaan sumber daya sebelum ini saya lebih banyak menggunakan Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Memusatkan perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Biasanya saya harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Terkadang hal tersebut membuat saya merasa tidak nyaman dan buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pada materi ini saya diperkenalkan kepada Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) yaitu sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir.

Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir.

4.       Future (Penerapan):

Setelah mendapatkan materi Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, maka dalam pengelolaan sumber daya saya akan lebih memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan (modal/aset) serta fokus pada potensi yang positif. Saya akan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ekosistem sekolah, mengelola sumber daya yang ada di sekolah dengan menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset Based Community Development/ABCD) untuk berusaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran murid.

 

Modul 3.2.a.10.2 Jurnal Refleksi Mingguan Minggu ke 21

 

Modul 3.2.a.10.2 Jurnal Refleksi Mingguan Minggu ke 21

What (Apa yang terjadi)

Pembelajaran di awali dengan forum  diskusi kelompok pada modul 3.2.a.5 dengan kegiatan di ruang kolaborasi  kelompok  yang berjumlah  3 orang .   Adapun anggota kelompok  kami adalah Nauly Trisnainy, Suhartati, dan Usman  Ismail, Diskusi yang  kami lakukan adalah  mengidentifikasi  dan maping's  asset yang merupakan modal dasar daerah  untuk menunjang  pembangunan   kualitas pendidikan di daerah kami masing-masing.  Setiap member  melakukan maping of  asset  internal dan external  daerah untuk mendapatkan  feetback masing-masing anggota kelompok lain.

Setelah Ruang kolaborasi per group berlanjut  dengan agenda presentasi di modul 3.2.a.5.1 dengan di dampingi oleh fasilitator Bpk M.S. Agung Santosa.  Presentasi Bersama fasil tambah membuat diskusi semakin menarik karena semua group mempresentasikan hasil diskusi di forum kecil ke forum besar  sehingga ide maping  of asset yang tidak terfikirkan di sekolah kami menjadi suatu temuan yang menarik untuk digali sebagai potensi meningkatkan kualitas edukasi di sekolah yang selama ini terabaikan karena kebanyakan ekosistem sekolah lebih terfokus pada deficit  based thinking  dan cenderung mangabaikan asset yang ada di sekolah dan lingkungan sekitarnya.

7 Asset modal  utama yang kami gali dan  memiliki potensi disekolah dan luar sekolah untuk kemajuan kualitas pendidikan  antara lain:

Asset Manusia (SDM)

Asset  Sosial

Asset Fisik

Asset lingkungan

Asset financial

Asset politik  

 Asset Agama dan budaya

So What (Bagaimana perasaan  saat  kegiatan terjadi)

Kegiatan di Ruang kolaborasi kelompok memberikan perasaan yang happy dan   saya merasa tertantang   karena  semua member mempresentasikan identifikasi detail asset masing- masing  sekolah dan  daerah yang merupakan modal dasar yang perlu dikelola dengan baik untuk menunjang kemajuan pendidikan merdeka belajar yang memihak pada murid. 

Dalam diskusi tentunya terdapat perbedaan pendapat satu sama lain akan tetapi perbedaan itu merupakan  asset untuk menentukan strategi  dalam mengolah asset yang dimiliki untuk  mencapai decision  dengan tetap menghargai  pendapat satu sama lain  dalam pendataan peninggatan pembelajaran  yang berpihak pada murid. Spirit dalam bersinergi satu sama lain membuat kami semakin  memiliki curiosty yang tinggi  untuk  berdedikasi dengan menggali asset yang ada di sekolah masing-masing dan  asset daerah masing- masing yang bisa kami mamfaatkan  dengan baik  untuk memberikan service yang lebih  pada murid kami sehingga terwujut murid yang  berkualitas   yang memiliki character building yang kuat dan tetap bertanggung jawab pada diri, sekolah dan menjaga  nama baik sekolah dan lingkungan sekitar.

Now what (Tindak lanjut dari peristiwa)

Lesson yang didapat pada diskusi ini adalah  out of box .  Hal -hal yang sebelumnya  tidak terfikirkan  untuk di mamfaatkan  pada pengelolaan asset  di sekitar sekolah dan   asset daerah  sekarang sudah  membuka cakrawala berfikir  kami CGP Angkatan ke 3 Kab. Sleman untuk  menilik dan mengelola asset tersebut.  

Saya  sebagai pemimpin pembelajaran yang sekarang bertugas di SMP Negeri 1 Prambanan akan mencoba mensosialisasikan  pada rekan sejawat step-by step.   Using approach of Asset based thinking merupakan  cara meningkatkan layanan mutu pendidikan  yang bertujuan untuk meningkatkan sekolah impian  yang berpihak pada murid. Saya tidak lagi  terfokus pada deficit based thinking akan tetapi focus pada asset yang ada di sekolah dan di daerah sekitar   untuk dijadikan inspirasi  dalam melakukan praktik baik pada murid untuk  meningkatkan pembelajaran  murid secara maksimal .  Pemberian pembelajaran yang maksimal tentunya memberikan pendidikan character yang maksimal juga sehingga murid-murid kami memiliki life skill dan  dengan tetap bertanggung jawab, memiliki rasa empati,peduli, bekerjasama , visioner sehingga nantinya mereka sudah siap terjun di masyarakat luas

 

Jumat, 18 Maret 2022

"3.1.a.9. Koneksi Antar Materi-Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran",

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).Bob Talbert

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran karena dimanapun kita sebagai pendidik harus bisa menempatkan diri ketika dihadapkan pada suatu dilema atau permasalahan . Sesuai dengan filosofi  “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

Seorang pendidik yang menjadi pemimpin pembelajaran hendaknya Ing Ngarso sung Tulodho pada saat di depan memberikan teladan bagi anak-anak didik. Ketika dihadapkan pada keadaan di mana harus mengambil keputusan sikap dan pola pikir kita akan menjadi suritauladan. Ing Madyo Mangun Karso, ketika berada ditengah sebagai inspirator dan motivator . Sebagai pemimpin pembelajaran pada saat bersama murid akan memberikan kekuatan dan tuntunan dalam pengambilan keputusan. Salah satu langkah dalam mambantu pengambilan keputusan bisa dilakukan dengan coaching terhadap murid agar mereka dapat menemukan sendiri jawaban atas setiap kesulitan yang dihadapi. Tut Wuri Handayani, Mengikuti serta memberikan dorongan dari belakang. Peran seorang pemimpin pembelajaran sebagai fasilitator dengan memberikan dorongan positif dari belakang agar murid menemukan potensi yang dimiliki dalam mengambil keputusan sesuai dengan pribadinya yang unik.

Nilai-nilai yang tertanam pada diri kita sebagai pemimpin pembelajaran adalah penalaran yang baik, menghargai kosep-konsep dan prinsip-prinsip etika.meskipun setiap orang  memiliki prinsip-prinsip hidup yang berbeda. Dalam pengambilan keputusan yang terbaik bagi kepentingan murid, seorang pendidik akan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama.

Coaching dengan pertanyaan pertanyaan reflektif dapat membantu menemukan solusi atau keputusan terbaik. Pertanyaan (guiding questions) diharapkan mampu mengarahkan keputusan menjadi tepat. Ketika akan melakukan sebuah pengambilan keputusan, melakukan uji benar lawan salah dan benar lawan benar. Kita harus mengenali dengan benar apakah masalah yang sedang dihadapi sebuah dilema etika atau hanyalah sebuah bujukan moral semata. Kemudian pengambilan  keputusan  menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2. Mempertimbangkan siapa yang terlibat

3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

4. Pengujian benar atau salah

Uji legal.    

Uji regulasi. 

Uji intuisi. 

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

6. Melakukan Prinsip Resolusi

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

7. Investigasi Opsi Trilema

8. Buat Keputusan

9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Kemampuan guru dalam.mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran ketika mengambil keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh (minful) dengan berbagai pilihan dan konskuensi yang ada, karena permasalahan muncul tidak melihat bagaimana kondisi emosional kita. Untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab diperlukan kompetensi kesadaran diri (Self awareness), pengelolaan diri (Self management), kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan hubungan social (relationship skills).

Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut seorang pendidik akan mendasari pemikiran dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika, sehingga pada saat melaksanakan pembahasan studi kasus yang focus pada masalah moral atau etika akan melihat dan mempertimbangkan nilai-nilai tersebut. Setiap keputusan yang diambil akan ada konsekuensinya, oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada  rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan dan berpihak pada murid.

Keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid yang senantiasa menjadi tujuan dan visi seorang guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran pada akhirnya akan menciptakan sebuah lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi semua. Bila seorang pendidik selalu memiliki kepedulian dan keberpihakan pada murid, maka dia akan melakukan apa saja agar sang murid dapat maju dan meraih hal yang baik. Hal itu tentunya akan membuat murid-muridnya semakin merasa aman dan nyaman dalam belajar dan menjadi pribadi unik yang Tuhan ciptakan, serta lingkungan yang terbentuk akan saling mendukung serta kondusif.

Kesulitan-kesulitan dalam pengambilan keputusan sulit dan bertentangan seringkali terletak pada paradigma masing masing pihak dalam memandang situasi tersebut. Bila pihak yang terlibat tidak memiliki cara pandang yang sama serta penekanan kepentingan yang selaras, maka akan sulit dijadikan sebuah keputusan yang baik. Bila semua dapat berkomunikasi dengan baik dan menyatukan pendapat mengenai paradigma yang akan dipakai dalam memutuskan sebuah permasalahan, maka kesulitan-kesulitan tersebut akan dapat diatasi, atau minimal menjadi semakin ringan untuk diputuskan tanpa menimbulkan gesekan atau masalah di kemudian hari.

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, kita yang paling bertanggung jawab dan berperan menentukan pengajaran yang akan terjadi di dalam kelasnya. Oleh karena itu, bila kita tidak mempraktikkan metode 9 langkah dalam pengambilan keputusan atau mempertimbangkan secara matang segala aspek sosial, hukum dan lainnya serta resiko serta dampak keputusan yang akan diambil tersebut maka kita dapat saja tergoda untuk mengambil keputusan yang berupa bujukan moral atau bahkan berpotensi merugikan murid-murid yang dipercayakan pada kita. Keputusan yang bertanggung jawab akan membawa manfaat kepada diri sendiri, dan terutama murid-murid bahkan kepada seluruh pemangku kepentingan di sekolah.

Murid adalah produk dari apa yang diajarkan lingkungannya, dalam hal ini keluarga dan sekolah serta masyarakat lainnya berperan membentuk karakter dan masa depan murid. Bila pengambilan keputusan dilakukan secara tidak bertanggung jawab tanpa menimbang dampak yang dapat terjadi pada murid sebagai akibat dari keputusan tersebut, tentunya akan mempengaruhi kehidupan murid bahkan masa depan murid menjadi kurang baik. Demikian juga sebaliknya, keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan kepentingan murid dalam tumbuh dan kembangnya akan berpotensi membuat kehidupan serta masa depan sang murid menjadi jauh lebih baik dan bahkan mereka dipersiapkan untuk menyongsong masa depan yang baik.

Modul-modul sebelumnya membangun paradigma seorang pendidik bagaimana memandang murid-muridnya dengan segala kompetensi dan keunikannya, menyesuaikan kodrat alam dan zaman, sampai memiliki visi untuk berpihak pada murid bahkan berhamba pada anak. Pembelajaran pada modul- modul tersebut memberikan pelatihan bagi pendidik dan sebagai landasan berpikir dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak di sekolah maupun di lingkungan secara luas. Pada materi modul ini mengajarkan bagaimana kita dapat melakukan pertimbangan-pertimbangan yang tepat dalam memandang dan menilai situasi sulit sehingga memudahkan kita mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid.

 

Selasa, 01 Maret 2022

3.2.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 20

 Model 2: Description, Examination and Articulation of Learning (DEAL)

- Description: Deskripsikan pengalaman yang dialami dengan menceritakan unsur 5W1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana);


pada minggu ini Alhamdulillah masuk pada modul 3.2 tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. kami CGP melakukan pendampingan dengan PP dan dilanjutkan adanya lokakarya 5. pada hari Sabtu, tanggal 26 Februari 2022 Lokakarya kami laksanakan di The Rish Hotel. alhamdulillah berjalan lancar namun suasana kemarin berbeda dibanding Loka yang lain karena banyak teman-teman CGP yang tidak dapat hadir karena terindikasi sakit Covid ataupun yang lain. namun seiring berjalannya waktu dengan kegiatan-kegiatan yang mengasyikkan dan menggugah pengetahuan dan semangat kita akhirnya dapat berjalan dengan baik. 


 - Examination: Analisis pengalaman tersebut dengan membandingkannya terhadap tujuan/rencana yang telah dibuat sebelumnya; 


dalam materi lokakarya 5 ini kami melakukan refleksi keadaan CGP pada awal mengikuti pelatihan dan sekarang yang sampai modul 3.2. mengalami perubahan yang lebih baik atau tidak. 


- Articulation of Learning: Jelaskan hal yang dipelajari dan rencana untuk perbaikan di masa mendatang. 

 “ Belajar tanpa refleksi adalah sia-sia, dan Refleksi tanpa belajar itu berbahaya” 

dalam pertemuan kemarin kami mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan yang sudah ada pada diri kami, kemudian mendapatkan usulan atau tanggapan dari teman-teman bagaimana memperbaiki kelemahan kami.


3.1.a.10.3. Jurnal Refleksi - Minggu 19

 Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C)

1) Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak? 

dalam materi ini sangat terkait dengan guru penggerak tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. dimana guru penggerak merupakan garda terdepan untuk memimpin pembelajaran yang pastinya akan menemukan masalah-masalah yang memerlukan keputusan tidak hanya untuk kepentingan individu, namun keputusan yang berpihak pada murid dan kebaikan bersama.

2) Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini? 

ada perbedaan namun pada dasarnya sama. jika kemarin sebelum mendapatkan materi ini jika mengambil keputusan hanya berdasar sebab akibat, dan hati nurani. namun setelah mempelajari materi ini ada 9 langkah yang harus ditempuh agar keputusan yang diambil akan tepat dan pasti merupakan pilihan terbaik untuk semuanya.

3) Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak? 

konsep-konsep penting yang saya pelajari pada materi ini yaitu 9 langkah pengambilan keputusan yang akan saya praktekkan jika menghadapi suatu masalah. baik itu bujukan moral ataupun dilema etika.

4) Change: Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?

perubahan yang akan saya lakukan yaitu menjadi pemimpin yang lebih bijaksana dalam pengambilan keputusan dan berpihak kepada murid.


Jumat, 18 Februari 2022

3.1.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 18

 Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)


1. Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut!


pembelajaran minggu ini masih dalam tema pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kami berkolaborasi dengan peserta lain dalam mengerjakan tugas kelompok. hal baik yang saya alami yaitu dapat mengambil ilmu atas kasus-kasus yang ada. alhamdulillah semua lancar dan semoga selalu diberi kemudahan serta kesehatan sampai pelatihan ini selesai.


2. Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut.  

perasaan saya pada minggu ini sangat senang, kembali tatap maya dengan teman-teman CGP dan fasilitator kembali setelah libur 1 bulan. yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata kedalam kelas yaitu bangga karena mengikuti pendidikan guru penggerak ini yang ilmunya sangat luar biasa. 


3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini? 

hal baru yang saya ketahui yaitu proses pengambilan keputusan yang tidak bisa sembarangan dan harus melihat hal lain di sekitarnya serta manfaatnya. 


4. Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?  

Saya akan menerapkan ilmu yang saya dapatkan ini dimasa yang akan datang, tidak hanya menerapkan namun juga mengimbaskan ilmu yang saya dapatkan ini dengan teman sejawat.


Senin, 07 Februari 2022

3.1.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 17

 3.1.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 17

1. Facts (Peristiwa):

Pengalaman saya mengikuti pembelajaran pada minggu ini bersemangat kembali karena sudah off sebulan dengan tugas LMS, hal baik yang saya alami dalam proses pembelajaran minggu ini saya mulai tahu apa itu dilema etika benar lawan benar dan benar lawan salah bujukan moral. Hambatan atau kesulitan saya selama proses pembelajaran pada minggu ini adalah membagi waktu yang sudah mulai padat kembali yang sebelumnya lumayan longgar(managemen waktu) yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut saya terus pantau jadwal harian kegiatan di LMS dan menambah porsi begadang malam untuk menyelesaikan tugas LMS.

2. Feelings (Perasaan): Perasaan saya selama pembelajaran berlangsung saya bersemangat untuk belajar menambah ilmu, yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas saya pastinya ada tantangan dan hambatan dan justru tantangan han hambatan tersebut sebagai pelecut saya untuk bisa mengatasinya,hal yang membuat saya memiliki perasaan pelecut karena guru harus bisa membuat siswa yang berkompeten, siswa yang berprofil pelajar pancasila.

3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran yang saya dapatkan dari proses ini adalah pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini adalah saya mendapatkan sesuatu ilmu yang bermanfaat karena banyak sekali ilmu yang belum bisa saya terapkan dalam proses pembelajaran terutamna dalam hal pengambilan keputusan.

4. Future (Penerapan):Yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan adalah selalu bersemangat dalam menerapkan Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan, aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini adalah akan melakukan aksi nyata di sekolah saya.

2.1.b.4. Jurnal pemantauan pembelajaran Daring CGP oleh Pengajar Praktik

  Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi NO URAIAN KETERANGAN 1 ...